Dua Puluh Tahun Paringga Cakra Haryandra

Image 

DUA PULUH TAHUN.

Bukaann.. itu bukan sepenggal kalimat kemarahan yang dilontarkan oleh Farida Fatma, ibu dari Kiki Fatmala yang kesal terhadap kedurhakaan anaknya..

“DUA PULUH TAHUN SAYA ASUH DIAA!”

*Eerr..mari kita kembali ke jalan yang benar!*

Tanggal 18 Juni kemarin saya genap berusia 20 tahun. Yep! Angka puluhannya sudah berganti. Saya merasa bersyukur dengan pergantian usia ini. Artinya, Tuhan telah mempercayakan saya untuk mencicipi nikmatNya selama 2 dasawarsa. Ada rasa khawatir, ketika saya merasa sudah dewasa, sudah bukan remaja lagi. (eerrr..) Tapi hidup ini perjalanan bukan?

Berbicara masalah kedewasaan, manusia pada usia 20 tahun ini sewajarnya sudah bisa menunjukkan perilaku yang dewasa. Bisa memahami masalah dalam dirinya, mempunyai kemampuan problem solving yang baik, dan terutama harus sudah bisa menjalin relasi dengan baik. Terkadang setiap orang merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan mampu berkembang dengan baik, tanpa mengerti sebetulnya indikator apa yang bisa menunjang hal tersebut. Ya, beberapa indikator memang terkadang diciptakan sendiri oleh si individu tersebut. Dan toh hidupnya masih baik-baik saja. Ya, saya termasuk ke dalam individu yang sering menciptakan indikator kebahagiaan untuk diri saya sendiri hehehe..

Ada satu hal yang berubah dalam hidup saya akhir-akhir ini. Sebetulnya hal ini sangat sepele. Sungguh sangat sepele. 

Saya. Mulai. Dipercaya. Untuk. Duduk. Disamping. Ayah. Saya. Yang. Sedang. Mengendarai. Mobil.

*yaelaahh, Ingga! Gitu doang!*

Hahaha! Mungkin saja ada yang berpikiran seperti itu. Dan jangan berpikir bahwa ayah saya seorang lelaki paruh baya yang tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri sehingga lebih memilih menjauhi anaknya, bahkan untuk sekedar duduk bersanding di dalam mobil. Sungguh bukan!

Keluarga inti saya berjumlah 4 orang. Ayah, Ibu, Saya, dan Adik yang berselisih usia 2 tahun (dari saya, bukan dari ayah). Ketika kami sekeluarga akan mengadakan perjalanan menggunakan mobil, biasanya ayah dan ibu akan duduk di depan. Selanjutnya saya dan adik akan duduk di kursi belakang. Posisi tersebut pun sudah lumrah kita lihat di iklan mobil di televisi kan? Tapi bukan berarti saya tidak pernah duduk di sebelah kemudi, namun biasanya saya yang meminta sendiri untuk duduk di depan.

Situasinya berbeda ketika hari itu Ibu saya langsung memilih untuk duduk di kursi belakang. Akhirnya saya duduk di depan, di sebelah ayah saya. Sejak kecil saya menganggap bahwa duduk di kursi depan merupakan suatu “kemewahan” tersendiri. Dan dulu saya berpikir bahwa hal-hal mewah tersebut memang diperuntukkan khusus untuk orang yang sudah dewasa. 

Hari itu saya, ayah, dan ibu akan pergi ke Bogor. Sepupu saya akan menikah. Selama perjalanan dari Bandung, lalu ke Bogor, lalu esok harinya pulang lagi ke Bandung, saya duduk di kursi depan. Alangkah mengasyikkannya, sodara-sodara! *eerrr..*

Lalu saya sempat berpikir, apa alasan Ibu yang dengan sukarela memberikan”singgasananya” untuk dinikmati saya. Apa saya terlihat lebih “ibu-ibu” dibandingkan dengannya? Eerr i hope not! Atau mungkin saja ibu menganggap saya sudah dewasa. Dewasa.

Pertanyaan nya adalah, di usia 20 tahun ini apa saya sudah dewasa? Apa saya sudah boleh mengatakan bahwa diri saya dewasa? 

Mungkin sebagian orang pernah berujar bahwa usia sekian adalah gerbang kedewasaan. Usia sekian adalah pintu menuju dunia yang lebih kompleks. Yang saya rasakan adalah bahwa gerbang tersebut sudah saya lalui jauuhh sebelum usia 20 tahun. Ya, tepat ketika saya dilahirkan dari rahim ibu. Perut ibu terpaksa disobek oleh pisau operasi, hanya untuk mengeluarkan organisme nakal yang lehernya terlilit tali pusar. 

Saya mengerti bahwa kebanyakan wanita lebih memilih untuk melahirkan secara normal. Namun, saat itu saya sendiri tidak bisa mewujudkan harapan ibu untuk melahirkan normal. Alhasil kalimat “Kita caesar aja ya Bu!” terlontar dari mulut dokter. 

Dan jadilah seperti sekarang ini! Saya dengan segala kebaikan dan keburukannya. Menurut saya dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Banyak kejadian dan pelajaran yang saya dapatkan. Berada di atas roda kehidupan, di bawah, atau bahkan di roda macet sekalipun sudah saya alami. Tuhan telah menyayangi saya dengan segala cara-cara manisNya. 

Mungkin di mata sesama manusia saya bukanlah sosok yang spesial, bukan anak orang kaya yang menganggap bahwa sushi, rainbow cake, dan cupcakes adalah makanan wajib-coba. Namun saya percaya mata Tuhan. Mata yang tidak pernah bohong. Mata yang sudah menatap saya dengan penuh kepercayaan untuk menikmati nikmatNya selama 20 tahun ini. 

Roda ini terus berjalan. Sekalipun ada di jalan yang mulus ataupun jalan penuh batu, namun roda itu tetap milik kita. Kendalikan itu dengan baik. Jadi apa saya sudah dewasa? Hhm, biarkan pertanyaan tersebut saya jawab sendiri.

Dan apa yang harus saya lakukan untuk mengisi usia kehidupan saya yang sudah 20 tahun ini? Bersyukur. Dankemudikan semua dengan baik. 

Thanks, God! =)

2 komentar di “Dua Puluh Tahun Paringga Cakra Haryandra

  1. Sepertinya sih memang semakin dewasa, Ingga semakin terlihat seperti ibu-ibu :))

    Selamat ulang tahun, Ingga. Semoga menjadi ibu-ibu dengan gelar M.Psi dibelakang namanya. Ny. Paringga, M.Psi. Membanggakan bukan?

    Baiklah, saya lebih baik kabur sebelum konde segede gunung salak melayang ke muka saya yang ga seberapa cakepnya ini.

    Sekali lagi, selamat ulang taun Ingga 🙂

    -@bijijeruuk-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s