“Kita Jalanin Dulu Aja, Ya!”

 

 

Hari ini, aku abadikan sapaku untukmu dalam sebuah surat..

Bagaimana kabarmu hari ini? Ya, hari ini. Tunggu sebentar, kamu paham kan sistem pembagian waktu berdasarkan hari? Senin, Selasa, Kamis, Minggu… Karena yang aku lihat, sepertinya kamu selalu sibuk tak kenal waktu. Waktu pun belum tahu masuk nalarmu. Aku bertaruh kamu seringkali tidak punya waktu untuk para kekasihmu. Tak heran mereka memilih untuk diinduk oleh sekotak cahaya dalam genggaman.

Guratan garis tua acapkali kutemukan. Sama maraknya dengan kuntum-kuntum muda selepas musim penghujan. Tingkahmu yang seringkali satir, mengundang banyak urat pikir. Aneh, ya? Aaahh, sudahlah! Kamu mungkin sudah kenyang melahap caci dan puji. Mari beralih menuju isi hati.

Begini duduk masalahnya,

Aku sedikit tidak paham dengan caramu menyayangi. Dengan teliti kamu sisipkan setiap peristiwa, tanpa mengacuhkan rasanya. Ditempa, dicoba, dimanja, dirasa. Semua lahap kutelan. Perutku gemuk makan kenangan. Bagai benang gelasan yang melambungkan layangan, namun perlahan menyayat telapak tangan.

Aku merasa seperti kekasih satu-satunya, yang dengan para pemuja lainnya, aku umbar dengan busungan. Berlomba jadi juaranya. Namun sampai saat ini aku tetap belum mengerti, cara mencinta seperti apa itu? Jika suatu saat kamu punya waktu, mari kita berbincang. Ketika ada alasan untuk tepian surya undur diri. Sungguh aku butuh penjelasan.

Oh iya, bulan Maret mendatang adalah perayaan 1 tahun terjalinnya asmara di antara kita. Aku betah. Meski tak jarang seringkali kamu mengundang resah. Akankah aku nanti dapat hadiah? Apa yang sudah kamu persiapkan? Kamu terus bergerak. Tubuhmu sigap menutupi bayangan kejutan. Baiklah, anggaplah aku tidak tahu apa-apa.

 

Ini yang ingin aku sampaikan. Ketika aku sudah bersiap mencinta, dengan lirih kamu berkata,

“Untuk sementara, kita jalanin dulu aja, ya…”

Aku terpaku. Mataku mengalirkan udara.

“Aaahhh.. Jakarta~”

 

(Surat cinta ini ditulis untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang dicipta Tuhan untuk disesap manisnya, dan dibingkai pahitnya.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s