The Story of Social Currency

Hidup kita dipenuhi dengan transaksi tak kasat mata. Setiap hari. Setiap saat.

 

Begini kisahnya.

Saat ini, di sudut gerai donat, saya sedang menginduk pada layar laptop, yang dipinjamkan oleh kantor tempat saya bekerja. Mengetik sembari mendengarkan lagu-lagu dari Alfian, salah satu biduan Indonesia legendaris di tahun 1960-an.

Mengapa saya mendengarkan lagu-lagu dari Alfian? Karena saya menikmati suara dan lagu-lagunya, meskipun terdengar oldies sekali. Di samping itu, kenapa saya mendengarkan lagu-lagu Alfian? Karena saya tahu, saat orang-orang mengetahui bahwa saya mendengarkan Alfian, mereka akan mengernyitkan dahi, dan bertanya, “Who’s Alfian?”. Dan saya harus menjelaskan siapa itu Alfian. Membuat orang tersebut paham, bahwa saya mendengar suara penyanyi yang mereka bahkan tidak tahu eksistensinya. Dan terkadang hal tersebut terasa menyenangkan.

Hal ini juga diterapkan oleh beberapa orang saat dulu saya bertanya,

Who’s Tame Impala?” atau “Ini siapa yang nyanyi? Hah? The 1975?”

Transaksi terjadi. Saya meminta pemahaman. Dan orang lain akan menyumbangkan apa yang ia pahami lebih dulu dibanding saya. Lebih tepatnya bukan menyumbang, tapi justru membeli anggapan bahwa dia lebih tahu dibanding saya.

Ada saat di mana hanya segelintir orang, termasuk kamu, yang rutin mendengarkan lagu-lagu The 1975.

Sampai akhirnya, The 1975 santer diperbincangkan oleh lebih banyak orang. Transaksinya sudah lebih banyak dilakukan orang lain, dan tidak lagi terasa eksklusif.

Everybody knows them now. OK, i’m gonna switch to another band.

Kemudian kamu mencari alat transaksi baru. Uang baru. Uang untuk membeli anggapan orang lain bahwa kita “lebih tahu dibandingkan orang lain”. Menyenangkan ya?

Tulisan ini mengisahkan tentang social currency, yang setiap orang gunakan untuk menyenangkan dirinya. Uang yang saya miliki bisa jadi berupa Alfian, Bob Tutupoly, dan yang lainnya. Di sisi lain ada kamu, dengan uang lainnya pula. Uang ini tidak hanya seputar pita suara merdu orang lain, bisa juga berupa pengalaman tentang apa yang sudah kamu lakukan dengan uang sebenarnya.

Sebagian orang mungkin menabung uang ini, namun tak jarang yang memilih untuk berhura dan berfoya.

Well, that’s your “money”. You can spend it for whatever you want. 

Tapi kemudian satu ingatan di masa kecil melintas di pikiran saya, saat dulu Ibu berujar,

“Uang jajannya jangan cepat dihabiskan ya. Jangan boros!”

Sama halnya dengan uang ini, menjadi konsumen yang bijak adalah pilihan. Karena secara sadar atau tidak, terkadang menjadi “shopaholic” bisa berakibat pada lilitan hutang. Dan akhirnya kamu sadar bahwa uang itu bisa menjelma jadi sangat menyebalkan.

 

“OK, mari kita belanja!”

 

Iklan

2 komentar di “The Story of Social Currency

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s