Yth. Kepala Suku Nyamuk

Kepada Yth. Kepala Suku Nyamuk.

Maaf kalau saya lancang. Tapi ada beberapa hal yang sepertinya harus kita selesaikan secara baik-baik (dulu). Saya sedikit tidak merasa nyaman dengan keberadaan anda dan teman-teman. Saya dengar, spesies jantan dari kelompok anda ada yang bertugas melakukan penyerbukan pada bunga? Apa itu betul? Kalau iya, saya ucapkan terima kasih. Saya akui itu nilai plus untuk anda dan teman-teman.

Tapi teman-teman anda yang betina sepertinya merugikan manusia. Di sini saya merasa didzalimi. Saya dicap sebagai Cowok Gatel, dalam arti yang sebenarnya. Rugi bukan? *lah* Anda tahu bahwa bentol yang ditimbulkan oleh hisapan nyamuk betina merusak kemulusan kulit saya? Tunggu! Anda boleh saja menertawakan hal itu. Tapi sungguh, saya sangat tidak suka merasa gatal. Terkadang saya sedang santai menikmati waktu istirahat saya, tiba-tiba teman betina anda datang menyerang. Saya salah apa???? *nangis* Anda bisa kasih saya penjelasan? Jawab!

Tuhan saya mengatakan bahwa membunuh sesama makhluk hidup itu perbuatan yang salah. Tapi demi menjaga ketentraman hidup saya dan keluarga, maka dengan terpaksa saya melakukan serangan balik pada teman-teman betina anda. *charge batere raket*

Yth. Kepala Suku Nyamuk

Anda tahu, bahwa selain meninggalkan bekas di kulit, serangan teman-teman betina anda juga membekas di hati? Silahkan kalau anda mau mengatakan saya lebay! Silahkan! Tapi ingat, pada kasus ini, posisi anda berada di pihak yang salah. Jujur saja, keadaan psikis saya terganggu. Saya jadi sering melamun, gelisah tak menentu. Apa yang salah dengan kulit saya? Sehingga teman-teman betina anda begitu tergiur mencicipinya.

Saya mau buat perhitungan. Anda boleh jalan-jalan di rumah saya, tapi please, anda semua harus melakukan puasa. Tidak boleh ada lagi hisap-hisapan darah, tidak boleh ada suara mendenging yang menjengkelkan, dan juga tidak boleh ada film Nikita Mirzani yang baru yang didzalimi lagi!

Apa anda mengerti pak, eh bu.. eh anda jantan atau betina sih? Eh eh jangan nempel-nempel dong ah! Pergi heh!! Aaaakk tolooongg!!

Gerakan Menutup Telinga

Siang ini aku sedang duduk terdiam di dalam mobil. Rencananya hari ini aku akan mengantar ibuku yang akan memeriksakan kakinya yang sakit di rumah sakit Santo Borromeus, Bandung. Mobilku diparkir di depan sebuah kapel di lingkunagn rumah sakit, Kapel “Hati Kudus Yesus” namanya. Tak lama kemudian, lonceng di kapel itu berbunyi, entah berapa kali. Akupun kurang mengerti, apa tujuan lonceng itu dibunyikan. Sebagai umat Muslim, aku mengenal adzan sebagai panggilan untuk menjalankan shalat 5 waktu. Tapi lain halnya dengan bunyi lonceng dari kapel itu.

Aku jadi ingat saat di mana aku masih seorang murid SD. Setiap hari Jumat kami mendapatkan pelajaran Pramuka, yang terkadang kami lakukan di luar lingkungan sekolah. Sekolah kami berdekatan dengan padang rumput yang luas, di situlah biasanya kami belajar tentang Pramuka. Di hari Sabtu, pelajaran olah raga juga membuat kami terkadang bermain di padang rumput itu. Sekolahku juga berdekatan dengan sebuah gereja Katholik, kurasa itu gereja yang terbesar di kotaku.

Di tengah pelajaran Pramuka atau olah raga, di tengah hari, terkadang gereja Katholik itu membunyikan loncengnya. Mungkin sekitar 3 menit. Dan lalu, apa yang kami, murid-murid kelas 4 SD, lakukan? Kami semua menutup telinga.

“Awas ih, jangan didengerin! Dosa!”

“Iya ih, pamali!”

Teman-temanku berkata seperti itu. Aku hanya menurut saja, karena dulu kuanggap hal itu memang merupakan sebuah dosa.

Sekolahku merupakan sekolah negeri, namun entah mengapa, teman sekelasku semua memang beragama Muslim. Jadi kami memang tidak punya pengalaman mempunyai teman yang berbeda agama. Sehingga, saat itu (kupikir) tidak ada yang perlu merasa kecewa dengan sikap kami menutup telinga.

Sekarang aku sedikit menyesal, dan menertawakan betapa polosnya kami saat di SD dulu. Untuk apa menutup telinga? Aku yakin lonceng itu berbunyi untuk suatu alasan. Dan aku yakin memang untuk alasan yang baik. Lagi pula, seumur hidup aku tak pernah melihat umat agama lain menutup telinga saat mendengarkan adzan.

Dear, teman-teman umat Nasrani.. Semoga “kebodohan” saya dan teman-teman saat itu dimaafkan ya.. 🙂

Semua kebaikan memang sepantasnya didengarkan. Dari manapun sumbernya. Dan jangan hanya karena berbeda agama, maka ucapan dari umat agama lain kita tolak dengan menutup telinga..

🙂

Surat untuk Masa Lalu

Hallo, kamu..

Jujur, aku sedikit rindu padamu. Rindu pada masa di mana aku merasakan semua sepertinya baik-baik saja. Masa di mana kesenangan dan kesedihan berjalan bersama.

Dulu, sebagai anak kecil, aku seharusnya sudah bisa tahu bahwa hidup tidak selamanya menyenangkan. Aku seharusnya sudah tahu bahwa rezeki setiap orang itu berbeda. Anak kecil yang normal mungkin memang bertingkah seperti aku. Namun kalau tahu seperti apa kondisinya kala itu, seharusnya aku bisa berlaku lebih baik. Setidaknya orang tuaku terkurangi bebannya. Hey, namun aku yakin tidak ada orang tua yang menganggap anaknya sebagai beban. At least, seperti itulah orang tuaku.

Dear, kamu..

Terima kasih sudah menjadikan aku seperti aku yang sekarang. Aku yang mulai mengerti baik dan buruk, sekalipun terkadang mencampur keduanya, dan menjadikan itu halal. Terima kasih atas semua pelajaran.

Aku yang sekarang, suatu saat akan menjadi kamu nantinya.

Terima kasih ya.. 🙂

Mengingat September

Lagi. Aku duduk di depan jendela di kampusku. Cuaca siang ini cenderung panas menyengat. Aku malas berada di luar.

Lalu, music player di laptopku memainkan lagu September dari Earth Wind & Fire, band favoritku. Agak kurang pas memang, lagu September didengarkan di siang hari yang terik. Tapi entah kenapa, lagu itu benar-benar melemparku ke bulan lalu, bulan September..

“Do you remember the 21st night of September?”

Sepenggal lirik itu mengingatkanku akan kamu. Akan kita.

Malam itu, 21 September, kita bermesra seperti biasa. Layar handphone ku yang menampilkan percakapan kita di BBM memerah, menampilkan banyak icon “love”. Aku suka icon itu, terlebih lagi karena kamu yang memngirimkan. Dan aku tau, kau tak pernah tanggung-tanggung untuk meng-copy nya sampai banyak, sampai penuh. Dan kau tau? Hatiku memerah seketika, Aku malu untuk menjangkau cermin. Tak sanggup melihat wajahku yang mungkin sama merahnya.

Malam itu, 21 September, tepat 1 malam sebelum 40 hari kita berikrar. Ikrar yang kini terus kita pegang, melekat erat, kuat, mengikat tanpa terasa berat.  Malam itu kita sama-sama menyadari bahwa esok hari adalah peringatan 40 hari kita bersama. Entah kenapa harus 40 hari yang kita ingat.

Kita lalu mengungkapkannya di Twitter. Mengungkapkan betapa bahagianya kita menjalani 40 hari itu. Sampai-sampai salah satu mantan pacarku mencibir dalam #NoMention “Hahaha 40 hari? Ngga sekalian Yasinan?!” Aku hanya bisa tertawa, karena aku tahu mantanku itu memang orang yang senang bercanda. Ah sudahlah, tak perlu dipikirkan. Malam itu malam milik kita.

“Our hearts were ringing. In the key that our souls were singing. As we danced in the night Remember, how the stars stole the night away”

Hati kita bernyanyi. Hati kita merekah. Kau tau betapa bahagianya aku malam itu? Saking bahagianya, aku bahkan mengatakan akan menaiki Segway di atas pelangi. Hahaha..

“My thoughts are with you. Holding hands with your heart to see you.”

Kamu tak pernah membolos, selalu ada dalam pikiranku. Apakah kamu sudah makan? Apakah sudah sholat? Apakah kamu juga sedang memikirkanku?

Jarak kita jauh, aku tidak bisa melihat apa yang kamu lakukan di sana. Kita selalu berujar bahwa jarak jangan menjadikan kita sedih. Meratapi keadaan. Kamu tau itu sulit? But my hands always hold your heart.. Aku percaya kamu.

“Remember, how we knew love were here to stay”

Stay.

Diamlah.

Betahlah.

Di hatiku mungkin kau menemukan kenyamanan.

Esok hari, kalau Tuhan menghendaki, tepat 2 bulan ikrar itu terucap hangat. Cinta ini masih muda, masih sulit untuk menapak dan meraba. Tapi aku percaya akan kita, akan rasa di malam ke-21 di bulan Sepember lalu.

Kita saling mengulurkan tangan, dan menari bersama. Menapaki sebuah hubungan akan lebih menyenangkan, bila dilakukan sambil menari.

21st night of September. Hati kita menari.
Kamu masih ingat gerakannya? Mari kita ulangi. Malam ini. Aku tunggu ya…. :*

*Terinspirasi lagu September by Earth Wind & Fire*